SulutEkspos.com – Setelah seharian menahan haus dan dahaga, teh hangat atau es teh manis sering menjadi minuman favorit kala berbuka puasa. Teh juga sering dikonsumsi untuk membantu menghangatkan tubuh saat sahur.
Kebiasaan ini, menurut para pakar kesehatan, sebaiknya dihindari. Terutama jika diminum setiap hari dalam jumlah berlebihan.
Ada sejumlah alasan yang membuat minuman ini kurang baik jika diminum ketika tubuh sedang menjalani puasa.
1. Teh menyebabkan sulit tidur
Dikutip dari Kompas[dot]com, Pakar Gizi IPB University Prof Ali Khomsan menjelaskan, teh dan kopi sama-sama mengandung kafein, meskipun kadar kafein pada kopi lebih tinggi. Selama bulan Ramadhan, waktu tidur umumnya sudah berkurang karena harus bangun lebih awal untuk sahur. Jika ditambah konsumsi kafein berlebih, kualitas istirahat bisa semakin terganggu.
“Konsumsi kopi atau teh dapat menimbulkan gejala sulit tidur yang membuat seseorang terjaga lebih lama,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
2. Teh berisiko meningkatkan dehidrasi
Teh memiliki sifat diuretik ringan karena kandungan kafeinnya dapat merangsang ginjal mengeluarkan lebih banyak cairan dan garam melalui urine. Akibatnya, frekuensi buang air kecil bisa meningkat. Meski dalam jumlah wajar biasanya tidak menyebabkan dehidrasi, konsumsi berlebihan saat sahur dikhawatirkan membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan selama berpuasa.
“Oleh karena itu, anjuran tidak minum kopi atau teh saat sahur bertujuan menjaga cairan tubuh agar tidak banyak kehilangan cairan,” jelas Ali.
Namun, saat berbuka situasinya berbeda karena tubuh bisa kembali mendapatkan asupan cairan. Meski begitu, kandungan kafein tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu waktu tidur malam.
3. Teh berisiko menghambat penyerapan gizi
Ali mengatakan minuman manis, termasuk es teh manis, sebenarnya dapat dikonsumsi saat awal berbuka untuk menggantikan energi yang telah digunakan selama berpuasa, mengingat tubuh tidak mendapat asupan energi sepanjang hari. Namun, konsumsinya harus tetap dalam batas wajar dan tidak berlebihan.
Pasalnya, teh mengandung senyawa tanin yang dapat mengikat zat besi dari makanan, sehingga penyerapannya di saluran pencernaan menjadi terhambat. Jika seseorang memiliki kadar zat besi rendah, konsumsi es teh manis secara berlebihan dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi tersebut.
“Teh menghambat penyerapan zat besi berlaku apabila mengonsumsi teh terlalu banyak atau terlalu kental. Namun, kalau hanya secukupnya masih aman,” paparnya.
4. Teh manis dapat memicu lonjakan gula darah
Ahli gizi Tan Shot Yen juga tidak merekomendasikan konsumsi es teh manis sebagai menu berbuka, apalagi jika dilakukan setiap hari. Menurutnya, kandungan gula dalam es teh manis dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat setelah seharian berpuasa.
“Buat buka puasa, orang kita mustahil minum teh tanpa gula, nah gulanya ini yang tidak baik,” ujarnya dikutip dari Kompas.com (3/3/2025).
5. Teh dapat membuat mual
Teh juga dapat memicu rasa mual pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau saat perut masih kosong. Hal ini berkaitan dengan kandungan tanin dalam teh. Senyawa tersebut memiliki sifat astringen yang dapat mengiritasi lapisan saluran pencernaan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman seperti mual atau sakit perut. Orang yang lebih sensitif bahkan bisa merasakan gejala tersebut hanya setelah mengonsumsi satu hingga dua cangkir teh (sekitar 240–480 ml). Atas alasan itu, Tan menyarankan agar saat berbuka puasa, minuman pertama yang dikonsumsi adalah air putih.
Menurutnya, tubuh membutuhkan asupan cairan yang mudah diserap setelah berpuasa selama belasan jam. “Yang paling mudah diserap tubuh tanpa merugikan tentu air. Dingin, hangat, atau suhu ruang tidak masalah. Air putih adalah perehidrasi terbaik,” tuturnya.
Tips Aman Konsumsi Teh
Jika tetap ingin minum teh, berikan jeda setidaknya 1-2 jam setelah berbuka puasa, atau konsumsi dalam jumlah sedikit (tidak berlebihan) dan jangan dijadikan menu utama saat sahur.
Alternatif terbaik selama puasa yaitu diutamakan minum air putih yang cukup saat sahur dan berbuka untuk menjaga hidrasi optimal. (***)












