Penulis: Adi Bawenti
Senin pagi 4 Agustus 2025 — Cuaca di Desa Bulawan Kecamatan, Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), begitu indah. Angin bertiup sepoi-sepoi gemercik suara burung berkicau sangat keras seakan memberi tanda adanya kisah dari seorang yang enggan menyebutkan namanya.
Kisah pun dimulai. Tak semua cerita sukses berakhir dengan sorak sorai. Ada kalanya, justru setelah puncak pencapaian diraih, yang tersisa hanyalah ruang kosong dan sunyi. Itulah yang kini dirasakan oleh sejumlah orang yang pernah bahu-membahu membangun impian—lalu perlahan dilupakan begitu saja.
Mereka pernah berjuang dari nol. Terik matahari, malam panjang tanpa tidur, dan tangis tersembunyi di balik tawa semuanya dilalui bersama. Kala tak ada yang percaya, mereka tetap berdiri. Kala semua terasa mustahil, mereka tetap melangkah.
Namun ketika keberhasilan akhirnya datang, sorotan lampu hanya mengarah pada satu titik. Satu nama. Satu wajah. Yang lain perlahan memudar, seolah tak pernah ikut ambil bagian.
“Dulu kita makan nasi bungkus bareng, sekarang bahkan untuk bertanya kabar pun sudah dianggap gangguan,” ucap salah satu rekan yang enggan disebutkan namanya. Ia adalah bagian dari tim.
Ini bukan hal baru. Banyak kisah serupa di balik layar sukses danloyalitas yang tak dibalas, tentang pertemanan yang berubah menjadi formalitas. Tapi bagi mereka yang pernah menanggung susah senang bersama, rasa sakitnya tetap nyata.
“Aku tidak menyesal ikut berjuang. Tapi kami kecewa dilupakan,” tambahnya.
Kini, sebagian dari mereka memilih memulai lagi dari awal. Membangun mimpi baru, dengan pelajaran lama yang dibawa dalam diam. Bahwa sukses sejati bukan sekadar pencapaian pribadi, tapi tentang siapa yang tetap kau genggam saat dunia mulai menoleh.












