Penulis:Adi Bawenti
Di tengah hamparan laut biru kawasan timur Indonesia, hidup seorang pria sederhana bernama Maskur Tempomona. Ia lahir pada 5 Mei 1966 di wilayah Kepulauan Sangihe, sebuah daerah yang dikenal dengan kehidupan masyarakat pesisirnya yang erat dengan laut.
Sejak muda, Maskur menjalani kehidupan sebagai seorang nelayan. Laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitasnya. Dengan perahu sederhana dan alat tangkap seadanya, ia menafkahi keluarga dengan penuh ketekunan.
Perjalanan hidup Maskur membawanya merantau ke berbagai daerah. Ia sempat menetap di Tobelo, tepatnya di Desa Lolobata, bersama anak kandung serta menantunya yang bekerja sebagai tukang. Kehidupan di perantauan tidak selalu mudah, namun kebersamaan keluarga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan.
Tak hanya itu, kisah hidup Maskur juga bersinggungan dengan wilayah Kendari dan Bombana. Nama Demang Udin Kuding disebut-sebut dalam perjalanan hidupnya, meski detail kisah tersebut menjadi bagian dari cerita yang belum sepenuhnya terungkap.
Akar keluarga Maskur juga terhubung dengan Desa Bajugan, sebuah desa di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. Nama-nama seperti Jemi, Pata, Fani, Pata, dan Sem Adokia menjadi bagian dari lingkaran keluarga dan kerabat yang mewarnai perjalanan hidupnya.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Maskur Tempomona adalah potret nyata keteguhan masyarakat pesisir Indonesia. Ia bukan tokoh besar yang dikenal luas, namun kisahnya mencerminkan perjuangan, keluarga, dan nilai kehidupan yang kuat, tentang bagaimana seseorang tetap bertahan dan melangkah di tengah keterbatasan.












