KOTABUNAN, SulutEkspos.com – Pelayanan air bersih di Desa Bulawan Kecamatan, Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kembali menjadi sorotan. Air tak kunjung mengalir hingga malam hari.
Sementara masyarakat harus menanggung dampak dari buruknya kepastian pelayanan.kebutuhan dasar yang seharusnya tersedia justru berubah menjadi persoalan yang menyiksa kehidupan warga.
Yang lebih, Ironis di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin mendesak, aliran air justru terhenti tanpa kepastian yang jelas. Warga harus menunggu, berharap, bahkan mencari cara sendiri untuk mendapatkan air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pertanyaannya, di mana tanggung jawab PDAM? kami selaku masyarakat, Desa Bulawan sudah sangat tersiksa. Kalau memang air bermasalah harus diperjelas agar kami para warga tahu”, ujar warga Desa Bulawan saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2026).
Ia juga menyebutkan apakah pihak PDAM tidak melihat bagaimana masyarakat kesulitan ketika air tidak mengalir? Apakah keluhan warga hanya dianggap angin lalu? Jangan sampai perusahaan yang bertugas melayani kebutuhan air bersih justru terkesan menutup mata terhadap penderitaan pelanggannya.
Masyarakat bukan sekadar pelanggan yang wajib membayar tagihan setiap bulan. Masyarakat adalah pihak yang berhak mendapatkan pelayanan yang layak, transparan, dan bertanggung jawab.
“Pihak PDAM apakah kalian mendengar keluhan kami para warga jangan hanya tutup mata saja,” sebutnya.
Lebih lanjut warga yang enggan menyebutkan namanya menuturkan jangan hanya cepat menagih pembayaran, tetapi lambat memberikan penjelasan ketika pelayanan terganggu!
Jika memang ada kerusakan atau kendala teknis, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan masyarakat terus bertanya-tanya tanpa informasi dan kepastian kapan air akan kembali mengalir.
Air tidak mengalir bukan persoalan kecil! Bagaimana masyarakat harus memasak? Bagaimana anak-anak harus mandi dan bersiap ke sekolah? Bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan sanitasi jika air bersih saja tidak tersedia?
“Ini bukan sekadar persoalan kran yang kering. Ini menyangkut kehidupan, kesehatan, dan martabat masyarakat,” ucapnya.
Kami mendesak pihak PDAM agar segera memberikan penjelasan terbuka, bertanggung jawab atas gangguan pelayanan, serta mengambil tindakan nyata untuk memulihkan distribusi air.
Jangan biarkan masyarakat terus menjadi korban ketidakpastian pelayanan.
PDAM harus ingat: yang mengalir bukan hanya air, tetapi juga kepercayaan masyarakat. Dan ketika air berhenti mengalir, kepercayaan publik pun bisa ikut mengering!
“Kami masyarakat butuh bukti pelayanan, bukan sekadar janji. Jangan tutup mata terhadap jeritan pelanggan yang hanya meminta satu hal,” pungkasnya.
(***)












